Aywawere dan Labirin Dunia Maya

Aywawere dan Labirin Dunia Maya

Aywawere yang umumnya ditulis aywawera atau ajawera secara sederhana dapat diartikan ‘jangan diajarkan’ atau ‘jangan diumbar’. Ungkapan ini menunjukkan kearifan leluhur Jawa-Bali bahwa tidak semua aspek ajaran agama Hindu dapat disampaikan pada masyarakat.

Orang-orang bijak terdahulu telah memiliki klasifikasi pengetahuan untuk menentukan mana ajaran yang dapat disebarluaskan pada masyarakat dan mana ajaran yang sepatutnya dirahasiakan. Nilai dan kemanfaatan pengetahuan tampaknya menjadi pertimbangan moral yang utama sehingga kebenaran dan kebaikan senantiasa diletakkan dalam kerangka dialogis-transformasional. Dialogis bahwa pengetahuan yang benar, juga harus memenuhi syarat menjadi pengetahuan yang baik, yakni nilai dan kemanfaatannya bagi masyarakat. Sementara itu, transformasional bahwa pengetahuan yang benar harus mampu mengubah (baca: mentransformasi) kehidupan individu dan masyarakat supaya menjadi lebih baik. Artinya, aywawere memberikan batasan bukan saja pada jenis dan kualitas pengetahuan yang diajarkan, melainkan juga kualitas manusia penerimanya.

Kearifan tersebut tampaknya semakna dengan salah satu kutipan Sarasamuccaya yang menyatakan, “Weda takut dengan orang yang sedikit ilmu- nya”. Artinya, ajaran Weda yang begitu luas dan mendalam harus diterima oleh manusia yang berilmu. Dalam hal ini, manusia berilmu menunjuk pada manusia yang memiliki kompetensi intelektual, moral, dan spiritual sehingga ajaran Weda tidak disalahartikan, disalahpahami, apalagi disalahgunakan. Mengingat ajaran suci Weda tidak hanya mencakup dimensi eksoteris, seperti aturan-aturan ritual, moral, dan sosial, tetapi juga menjangkau dimensi esoteris (kedalaman batin) manusia yang berhubungan erat dengan aspek spiritual, mistis, bahkan magis. Kedua dimensi ajaran ini umumnya disebut prawerti dan nirwerti kadharman.

Prawerti kadharman adalah ajaran untuk menuntun manusia dalam kehidupan sosioreligiusnya, seperti tapa (pengendalian diri), yajna (persembahan dan pemujaan), dan kerthi (kerja, usaha, pengabdian). Ajaran prawerti cenderung bersifat universal sehingga dapat diajarkan pada seluruh masyarakat tanpa kecuali. Sementara itu, nirwerti kadharman adalah ajaran untuk menuntun manusia dalam menjalani kehidupan spiritual, seperti brata (pengekangan diri), yoga (penghubungan diri), dan samadhi (realisasi diri). Ajaran ini cenderung bersifat rahasia (jnana rahasyam) dan tidak selalu berterima dengan nalar publik sehingga tidak serta-merta dapat disebarluaskan kepada masyarakat (aywawere). Berkenaan dengan itu, Kakawin Candra Bhairawa karya Pedanda Made Sidemen merefleksikan pentingnya prinsip aywawere terutama dalam konteks prawerti dan nirwerti kadharman.

Ringkasnya, Kakawin Candra Bhairawa mengisahkan tokoh Candra Bhairawa yang sakti mandraguna, menguasai seluruh pengetahuan, dan menginsafi hakikat Diri. Candra Bhairawa menciptakan kegaduhan di Hastinapura karena mengajak masyarakat untuk meninggalkan segala pemujaan dan persembahan kepada para dewa. Alasannya, dewa yang sejati bukan di luar diri, melainkan di dalam diri (dewa di deweke) sehingga pemujaan dan persembahan hanyalah kebodohan belaka. Kegaduhan ini membuat Prabu Yudistira gusar dan melakukan berbagai cara untuk mengalahkannya. Jalan perang telah ditempuh, tetapi Candra Bhairawa terlampu sakti untuk dikalahkan. Prabu Yudistira pun mengajak Candra Bhairawa berdialog (‘berdebat’) mengenai hakikat keutamaan hidup. Dalam dialog tersebut, Prabu Yudistira mengatakan bahwa semua yang diajarkan Candra Bhairawa benar adanya, tetapi tidak sepatutnya disebarkan pada masyarakat luas yang kualitasnya berbeda-beda. Pada akhimya, Candra Bhairawa mengakui kesalahannya dan menerima kekalahannya.

Petikan cerita tersebut menggambarkan betapa ajaran rahasia (jnana rahasyam) harus diajarkan kepada orang yang tepat dan benar-benar siap sehingga tidak digunakan secara semena-mena. Tradisi Upanisad (‘duduk dekat kaki guru’) yang menjadi model parampara dan pasraman dalam sistem pendidikan Hindu Kuno menegaskan pentingnya hubungan interpersonal antara guru dan murid (guru-sisya) dalam pengajaran nirwerti kadharman (jnana rahasyam). Dalam tradisi ini, sang Guru akan mengawali pengajaran dengan menakar kompetensi akal dan moral muridnya, bahkan kerapkali melalui ujian dan persyaratan yang berat. Takaran ini menjadi dasar pertimbangan sang Guru dalam menyampaikan ajaran pada muridnya, bahkan merahasiakan ajaran tertentu ketika sang murid dianggap belum siap dan layak menerimanya. Di sini, aywawere mendapatkan kebenaran aksiologisnya dalam sistem pengajaran agama Hindu teratama pada aspek nirwerti kadharman atau jnana rahasyam.

Namun kini, aywawere mulai mendapatkan gugatan yang berarti oleh masyarakat seiring perubahan pola pikir, gaya hidup, dan perkembangan teknologi informasi. Dunia maya tampil sebagai ruang eksistensi baru manusia sekarang untuk memenuhi berbagai kebutuhan, keperluan, keinginan, dan kepentingannya. Ruang kebebasan yang mahaluas bagi setiap individu untuk mengidentifikasi dan menarasikan diri, bahkan merayakan hasrat libidinalnya. Distribusi dan konsumsi informasi pada berbagai bidang kehidupan menjadi realitas niscaya dalam dunia maya, juga termasuk agama. Ajaran agama telah menjadi wacana yang direproduksi begitu rupa dalam dunia maya sehingga sejumlah tatanan tradisi pengajaran agama pun mulai goyah dan nyaris punah.

Aywawere menjadi satu contoh nyata tradisi pengajaran Hindu yang mulai goyah dan nyaris punah dalam labirin dunia maya. Tradisi ini terlihat semakin samar nan sumir. Samar karena mengaburnya batasan-batasan antara ajaran yang layak diketahui publik dan yang tidak. Begitu juga sumir karena dunia maya acapkali menyajikan ajaran yang begitu luas dan mendalam menjadi sepenggal wacana. Informasi tersebut menggelinding begitu saja bak bola liar dan audien menjadi pihak yang paling bertanggungjawab untuk menemukan maknanya sendiri. Perbedaan penafsiran dan pemahaman menjadi realitas sosial yang tidak terhindarkan, dan kontroversi pun terus bergulir seolah tanpa ujung-pangkal. Uniknya lagi, prawerti dan nirwerti kadharman yang substansi ajarannya dapat dikatagorikan berbeda (eksoteris dan isoteris), justru acapkali dijadikan landasan untuk membangun wacana yang saling menyalahkan satu sama lain.

Para penggiat media sosial dan laman internet mungkin tidak terlalu sulit mencari contoh betapa ajaran Hindu telah kehilangan karakter aywawere-nya dalam dunia maya. Pengetahuan dan pengalaman ‘magis-mistis’ seperi kehilangan sifat tenget-nya (‘sakral’) karena diumbar begitu saja layaknya pengetahuan profan lainnya. Pandangan Upanisad dan Vedanta (jnana kandha) digulirkan untuk mempermasalahkan, bahkan menyalahkan fenomena keberagamaan umat Hindu yang bertumpu pada tradisi karma kandha. Ajaran kesamaan derajat manusia (manusapada) dijadikan senjata untuk mengkritisi stratifikasi sosial yang berlaku di masyarakat, dan seterusnya. Malahan tidak jarang pengetahuan itu disampaikan dengan gaya bahasa yang sinis, sarkas, dan lelucon belaka. Pada akhirnya, dunia maya tidak lebih sekadar media unjuk diri, unjuk kepintaran, unjuk kekuasaan, bahkan lebih remeh lagi ‘sekadar eksis’.

Tidak diragukan lagi, tenggelamnya karakter aywawera dalam labirin dunia maya telah mereproduksi wacana agama menjadi banalitas (keremeh-temehan) yang niscaya. Alih-alih menjadi media pencerahan umat Hindu, justru dunia maya dapat menciptakan kerancuan berpikir, kecurigaan, dan syak wasangka. Ketakutan filsuf Jerman, Theodor Adorno bahwa dunia maya, layaknya budaya pop lainnya akan menjauhkan manusia dari pencerahan yang sarat makna, tampaknya cukup beralasan. Hal ini sekaligus menjadi imbauan moral bagi umat Hindu agar lebih bijak menggunakan dunia maya, baik dalam menyampaikan maupun menyerap informasi keagamaan. Spirit aywawere kiranya dapat direvitalisasi kembali untuk memilah dan memilih informasi keagamaan di dunia maya dengan pertimbangan nilai dan manfaatannya bagi kehidupan serta kemanusiaan. Dengan kesadaran ini, niscaya pengetahuan (veda) benar-benar menjadi penerang (vidya) untuk menelusuri labirin gelap dunia maya dengan kebijaksanaan (viveka) menuju pembebasan sejati (vairagya). Rahayu…!!!

Oleh: Nanang Sutrisno
Source: Majalah Wartam, Edisi 33, November 2017

Previous Bhur Bhuvah Svah Tiga Kesadaran Alam

Sekretariat Pusat

Jalan Anggrek Neli Murni No.3, Kemanggisan, Kec. Palmerah, Kota Jakarta Barat, DKI Jakarta, 11480.

Senin – Jumat: 08:00 – 18:00

Didukung oleh

Ayo Berdana Punia

Tim IT PHDI Pusat © 2022. All Rights Reserved